Selasa, 15 Januari 2019

Hormat Serta Patuh Kepada Orang Tua Dan Guru

MMateri Pembelajaran

A.    HORMAT DAN PATUH TERHADAP ORANG TUA DAN GURU
1.      Hormat dan Patuh Terhadap Orang Tua
Keberadaan orang tua bagi seorang anak ibarat sebuah pohon dan buahnya. Tidak akan ada buah tanpa pohon, dan kuranglah bermanfaat sebuah pohon tanpa buah yang baik. Oleh karena itu, hubungan antara orang tua dan anak mestilah menjadi hubungan yang harmonis dan saling melengkapi. Bagi orang tua, menyayangi dan mengasihi anak tidak terbatas ruang dan waktu. Mereka tidak pernah lelah dan lalai dalam memberikan kasih sayang dan perhatiannya kepada anak-anaknya. Mereka mengerjakan apa yang menjadi kebutuhan anak-anaknya mulai bangun tidur hingga tidur kembali.
Di lain pihak, tidak sedikit anak yang tidak memperhatikan dan tidak peduli kepada orang tuanya. Ketika usia masih kecil hingga remaja, mereka kadang enggan menuruti nasihat dan perintah orang tuanya. Demikian pula, ketika mereka sudah dewasa dan sukses dalam karir, tak jarang orang tuanya terabaikan tanpa kasih sayang seperti kasih sayang yang didapatnya dari orang tua ketika kecil hingga besar. Bahkan, tidak sedikit seorang anak memperlakukan orang tuanya jauh dari sikap hormat, kasih, dan sayang.
a.       Makna orang tua bagi anak
Orang tua memiliki kedudukan tinggi dalam Islam. Setiap anak memiliki kewajiban untuk berbuat baik terhadap kedua orang tuanya. Kasih sayang yang tulus yang diberikan orang tua tidak akan mampu dibayar dengan uang oleh seorang anak. Oleh karena itu, kasih sayang, perhatian, dan pengorbanan orang tua harus dibalas dengan kebaikan, kasih sayang, dan pengorbanan yang serupa, meski tidak sebanding. Islam mengenal dua macam orang tua yang harus dihormati, yakni orang tua biologis yang telah melahirkan kita dan orang tua rohani yang telah mengantarkan kita mengenal Allah Swt.
b.      Kewajiban berbakti kepada orang tua
Berbakti dan berbuat baik kepada orang tua, mengasihi, menyayangi, menghormati, mendoakan, taat, dan patuh terhadap apa yang mereka perintahkan, termasuk melakukan hal-hal yang mereka sukai adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap anak kepada orang tuanya. Perilaku tersebut di dalam istilah agama Islam dinamakan birrul walidain.
Birrul walidain adalah hak kedua orang tua yang harus dilaksanakan oleh setiap anak, sepanjang keduanya tidak memerintahkan atau menganjurkan kemaksiatan atau kemusyrikan. Bahkan, seorang anak tetap harus berbakti meskipun orang tuanya kafir atau musyrik. Hal ini ditegaskan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya dalam surah Luqmān/31:15 yang artinya, “Jika keduanya (ibu bapakmu) memaksamu supaya engkau musyrik, menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak ketahui, maka janganlah engkau mengikuti keduanya, dan bergaullah dengan keduanya di dunia dengan baik.”
Islam mengatur hubungan antara anak terhadap kedua orang tuanya dan tata cara pergaulannya. Keduanya memiliki hak dan kewajiban yang saling berkaitan. Seorang anak tidak diperkenankan mengucapkan kata-kata yang kurang berkenan terhadap kedua orang tua, apalagi hingga membuat mereka sakit hati.
c.       Keutamaan berbakti kepada orang tua
Islam menempatkan kedudukan orang tua pada tempat terhormat dalam al-Qur’ān. Kedua orang tua menempati posisi penting dalam berbakti seorang manusia setelah beribadah kepada Allah Swt. Perlakuan kepada keduanya merupakan pintu keberkahan maupun kesulitan bagi seorang anak. Jika seorang anak berbakti dan memperlakukan dengan sebaik-baiknya sebagaimana yang Allah perintahkan, Allah akan memberikan keberkahan hidup kepada anak tersebut. Tetapi sebaliknya, jika seorang anak durhaka kepada ibu bapaknya, Allah tak segan-segan menyulitkan jalan hidupnya.
Banyak riwayat yang mengemukakan tentang keutamaan berbakti kepada orang tua. Keutamaan-keutamaan tersebut akan diperoleh seorang anak baik di dunia maupun di akhirat kelak. Adapun keutamaan-keutamaan berbakti kepada orang tua di antaranya adalah seperti berikut.
a.       Penghapus dosa besar
b.      Dipanjangkan usia dan dilimpahkan rezeki
c.       Akan mendapatkan bakti yang sama dari anak keturunan
d.      Dimasukkan ke dalam surga

2.      Hormat kepada guru
Guru adalah orang yang memberikan pengetahuan sekaligus pendidikan akhlak terhadap murid-muridnya. Ia mengajari cara membaca, berhitung, berpikir, dan sebagainya. Guru juga mengajarkan nilai-nilai moral dan nilai-nilai akhlak yang tinggi kepada murid-muridnya. Ia tidak hanya memberikan pengetahuan saat di sekolah, tetapi juga memberikan bimbingan saat dibutuhkan di luar sekolah.
Setiap guru pasti akan mengajarkan kebaikan-kebaikan yang mungkin tidak didapatkan seorang anak dari orang tuannya di rumah. Tanpa pendidikan dan bimbingannya, bisa jadi kita tidak akan mengetahui segala yang nyata maupun yang tersembunyi di alam raya ini. Tanpa bimbingannya pula, bisa jadi kita tidak dapat membedakan mana yang benar maupun yang salah, mana yang dibolehkan dan mana yang dilarang. Jasa seorang guru dalam mendidik dan mencerdaskan murid-muridnya tidaklah dapat diukur dengan materi. Berkat jasa gurulah, kita menjadi terpelajar.
Dalam ajaran Islam, guru atau ulama adalah orang yang memiliki pengetahuan luas dibandingkan dengan orang lainnya. Ia merupakan pewaris para nabi dalam menyampaikan kebaikan kepada orang lain. Allah Swt. berfirman:

Artinya: “...Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (Q.S Fātir/35:28)
a.       Adab Seorang Murid Kepada Guru
Sebagaimana seorang anak memperlakukan orang tuanya, bagitu pulalah sikap yang harus ditunjukkan oleh murid kepada gurunya. Karena jasanya yang sangat besar kepada murid-muridnya, sudah selayaknya seorang murid menerapkan perilaku atau adab yang baik kepada gurunya. Adapun adab seorang murid kepada guru di antaranya adalah sebagai berikut.
·         Hendaklah merendahkan diri di hadapan guru, tidak keluar dari tempat belajar sebelum mendapat izin dari guru.
·         Hendaklah memandang guru dengan penuh rasa ta’zim atau hormat dengan meyakini bahwa gurunya memiliki kelebihan.
·         Hendaklah duduk di hadapan guru dengan sopan, tenang, dan mendengarkan apa yang dijelaskan oleh guru.
·         Hendaklah tidak berjalan, duduk, atau memulai perkataan sebelum meminta izin kepada guru.
·         Patuh terhadap perkataan dan perintahnya.

B.     DALIL DAN HADITS TENTANG HORMAT DAN PATUH TERHADAP ORANG TUA DAN GURU
Al-Qur’an Surat Al-Isra’ (17) ayat 23-24.
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا
 فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
 “Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah satu seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Qs. Al Israa’ [17]:23)
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku,kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.” (Qs. Al Israa’ [17]:24)
Surat Al-Isra ayat 23-24 memiliki kandungan mengenai pendidikan berkarakter. Definisi dari karakter adalah satu kesatuan yang membedakan satu dengan yang lain atau dengan kata lain karakter adalah kekuatan moral yang memiliki sinonim berupa moral, budipekerti, adab, sopan santun dan akhlak. Akhlak dan adab sumbernya adalah wahyu yakni berupa Al-Qur’an dan Sunah. Sedangkan budi pekerti, moral, dan sopan santun sumbernya adalah filsafat. Kembali kepada pengertian dari Surah Al-Isra ayat 23 disebutkan bahwa yang pertama Allah memerintahkan kepada hamba-hambanya untuk menyembah Dia semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.yang kedua, kita harus berbakti kepada orang tua. Lalu pada ayat 24 disebutkan bahwa anak hendaknya mendoakan kedua orang tuanya. Ulama menegaskan bahwa doa kepada kedua orang tua yang dianjurkan adalah bagi yang muslim, baik yang masih hidup atau telah meninggal. Sedangkan bila ayah atau ibu yang tidak beragama islam telah meninggal, maka terlarang bagi anak untuk mendoakannya. Dari penjelasan di atas sangat jelas bahwa ketika kita menghargai dan menyayangi orang tua kita dengan baik maka akan menumbuhkan akhlak serta moral yang baik pula bagi anak sedangkan jikalau kita acuh maka akan timbuh akhlak dan moral yang tidak baik. Dengan kata lain, hal ini sangat berpengaruh dalam pendidikan karakter. Antara orangtua sebagai pendidik dan anak. Segala sesuatu yang diajarkan dengan baik pada mulanya akan menanamkan karakter yang baik pula pada anak. Untuk itu berbakti kepada orang tua merupakan suatu cara yang harus dilakukan.
Hadis Abdullah ibnu Umar tentang ridho Allah terletak pada ridho orang tua.
عَنْ عَبْدُ الله بن عَمْرٍو رضي الله عنهما قال قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: رِضَى اللهُ فى رِضَى الوَالِدَيْنِ و سَخَطُ الله فى سَخَطُ الوَالِدَيْنِ ( اخرجه الترمذي وصححه ابن حبان والحاكم)
Artinya: dari Abdullah bin ‘Amrin bin Ash r.a. ia berkata, Nabi SAW telah bersabda: “ Keridhoaan Allah itu terletak pada keridhoan orang tua, dan murka Allah itu terletak pada murka orang tua”. ( H.R.A t-Tirmidzi. Hadis ini dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim)[1][1]
Guru adalah orang tua kedua, yaitu orang yang mendidik murid-muridnya untuk menjadi lebih baik sebagaimana yang diridhoi Alloh ‘azza wa jalla. Sebagaimana wajib hukumnya mematuhi kedua orang tua, maka wajib pula mematuhi perintah para guru selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syari’at agama.
Di antara akhlaq kepada guru adalah memuliakan, tidak menghina atau mencaci-maki guru, sebagaimana sabda Rosululloh saw
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا
“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua dan tidak menyayangi orang yang lebih muda.” ( HSR. Ahmad dan At-Tirmidzi )
Selain memuliakan dan tidak menghina akhlak kepada guru adalah mendatangi tempat belajar dengan ikhlas dan penuh semangat, sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
 مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu padanya, Alloh mudahkan baginya dengannya jalan menuju syurga.” ( HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah )
C.    PERILAKU YANG MENCERMINKAN SIKAP HORMAT DAN PATUH TERHADAP ORANG TUA DAN GURU
1.      Perilaku Yang Mencerminkan Sikap Sayang, Hormat dan Patuh Kepada orang tua diantaranya adalah:
a.       Jika orang tua masih hidup yaitu:
·         Mengucapkan salam saat akan meninggalkan atau menemuinya.
·         Mendengarkan segala perkataannya dengan penuh rasa hormat dan rendah hati.
·         Tidak memotong pembicaraannya karena itu akan menyakiti hati keduanya.
·         Berpamitan atau meminta izin ketika akan pergi ke luar rumah, baik untuk bersekolah atau keperluan lainnya.
·         Mencium tangan kedua orang tua jika akan pergi dan kembali dari bepergian.
·         Membantu pekerjaan rumah atau pekerjaan lain yang akan meringankan beban orang tua.
·         Berbakti dengan melaksanakan nasihat dan perintah yang baik dari keduanya.
·         Merawat dengan penuh keikhlasan dan kesabaran apalagi jika keduannya sudah tua dan pikun.
·         Merendahkan diri, kasih sayang, berkata halus dan sopan, serta mendoakan keduanya.
·         Menyambung silaturahim meskipun hanya melalui telepon ketika jarak sangat jauh.
·         Memberikan sebagian rezeki yang kita miliki meskipun mereka tidak membutuhkan.
·         Selalu meminta doa restu orang tua dalam menghadapi suatu permasalahan.
b.      Jika orang tua sudah meninggal, yaitu:
·         Melaksanakan wasiat dan menyelesaikan hak Adam yang ditinggalkannya (utang atau perjanjian dengan orang lain yang masih hidup).
·         Menyambung tali silaturahim kepada kerabat dan teman-teman dekatnya atau memuliakan teman-teman kedua orang tua.
·         Melanjutkan cita-cita luhur yang dirintisnya atau menepati janji kedua ibu bapak.
·         Mendoakan ayah ibu yang telah tiada itu dan memintakan ampun kepada Allah Swt. dari segala dosa orang tua kita.
2.      Perilaku yang mencerminkan sikap hormat dan patuh kepada guru diantaranya:
·         Seorang murid hendaklah hormat kepada guru, mengikuti pendapat dan petunjuknya.
·         Seorang murid hendaklah memberi salam terlebih dahulu kepada guru apabila menghadap atau berjumpa dengan beliau.
·         Seorang murid hendaklah memandang gurunya dengan keagungan dan meyakini bahwa gurunya itu memiliki derajat kesempurnaan, sebab hal itu lebih memudahkan untuk mengambil manfaat dari beliau.
·         Seorang murid hendaklah mengetahui dan memahami hak-hak yang harus diberikan gurunya dan tidak melupakan jasanya.
·         Seorang murid hendaklah bersikap sabar jika menghadapi seorang guru yang memiliki perangai kasar dan keras.
·         Seorang murid hendaklah duduk dengan sopan di hadapan gurunya, tenang, merendahkan diri, hormat sambil mendengarkan, memperhatikan, dan menerima apa yang disampaikan oleh gurunya.
·         Seorang murid hendaklah ketika mengadap gurunya dalam keadaan sempurna dengan badan dan pakaian yang bersih.
·         Seorang murid hendaklah jangan banyak bicara di depan guru ataupun membicarakan hal-hal yang tidak berguna.
·         Seorang murid hendaklah jangan bertanya dengan tujuan untuk mengujinya dan menampakkan kepandaian kepada guru.
·         Seorang murid hendaklah jangan bersenda gurau di hadapan guru.
·         Seorang murid hendaklah jangan menanyakan masalah kepada orang lain ditengah majlis guru.
·         Seorang murid hendaknya tidak banyak bertanya, apalagi jika pertanyaan itu tidak berguna.
·         Jika guru berdiri, Seorang murid hendaklah ikut berdiri sebagai penghormatan kepada beliau.
·         Seorang murid hendaklah tidak bertanya suatu persoalan kepada guru ketika sedang di tengah jalan.
·         Seorang murid hendaklah tidak menghentikan langkah guru di tengah jalan untuk hal-hal yang tidak berguna.
·         Seorang murid hendaklah tidak berburuk sangka terhadap apa yang dilakukan oleh guru  ( guru lebih mengetahui tentang apa yang dikerjakannya).
·         Seorang murid hendaklah tidak  mendahului jalannya ketika sedang berjalan bersama.
·         Ketika guru sedang memberi penjelasan/ berbicara hendaklah murid tidak memotong pembicaraannya. Kalaupun ingin menyanggah pendapat beliau maka sebaiknya menunggu hingga beliau selesai berbicara dan hendaknya setiap memberikan sanggahan atau tanggapan disampaikan dengan sopan dan dalam bahasa yang baik.
·         Apabila ingin menghadap atau bertemu untuk sesuatu hal maka sebaiknya murid memberi konfirmasi terlebih dahulu kepada guru dengan menelphon atau mengirim pesan, untuk memastikan kesanggupannya dan agar guru tidak merasa terganggu.
·         Murid haruslah berkata jujur apabila guru menanyakan suatu hal kepadanya.
·         Seorang murid hendaklah menyempatkan diri untuk bersilaturahim ke rumah guru di waktu-waktu tertentu, sebagai bentuk rasa saying kita terhadap beliau. Meskipun sudah tidak dibimbing lagi oleh beliau ( karena sudah lulus) murid hendaklah tetap selalu mengingat jasanya dan tetap terus mendoakan kebaikan –kebaikan atas mereka.

Senin, 26 November 2018

ANAK KU

Tuhan
Hari ini ujian Itu datang
sakit yang di dera anak ku
menjadikan kami sadar bahwa semua adalah kehendakmu

Kamis, 22 November 2018

Bagaimana Kita memuliakan Rasul

Bagaimana Kita Memuliakan Rasul?

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Pada bulan Rabiul Awal ini kita teringat momentum kelahiran Rasulullah Saw., tepatnya tanggal 12 Rabiul Awal. Mari pada kesempatan ini kita sejenak mengenal lebih dekat Rasulullah Saw.. Mengenal beliau dari pernyataan-pernyatan yang disampaikan banyak pihak tentang beliau:

Pertama, simaklah firman Allah SWT. tentang beliau. Dalam Al-Qur’an Allah SWT. menggambarkan pribadi Rasul Saw. sebagai berikut:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ

Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Al-Qalam: 4).

Rasulullah adalah seorang hamba yang diutus ke muka bumi ini sebagai rahmat bagi seluruh alam.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Al-Anbiya: 107).

Allah SWT. dan para Malaikat bersalawat kepada Rasulullah Saw, dan memerintah orang-orang yang beriman untuk bersalawat kepada beliau. Sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (Al-Ahzab: 56).

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah

Bagaimana Rasulullah menurut penuturan keluarganya?

Aisyah ra., isteri Rasul Saw. pernah menggambarkan akhlak beliau.

كَانَ خُلُقه الْقُرْآن

“Bahwa Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an”. (HR. Muslim).

Selanjutnya dengarkanlah penjelasan khadim (pembantu) Rasul Saw., Anas bin Malik tentang beliau:

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, saya melayani Rasulullah Saw. selama sepuluh tahun. Demi Allah Rasulullah tidak pernah membentakku, dan tidak pernah berkata kepadaku lantaran pekerjakan yang kulakukan, mengapa kau lakukan seperti itu, tidakkah seharusnya seperti ini?”. (HR. Muslim).

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah

Bagaimana masyarakat memandang Rasulullah Saw.?

Rasulullah Saw. dijuluki masyarakatnya sebagai orang yang mulia (kariim) dan orang yang terpercaya (al-amiin), dan bahkan julukan itu juga keluar dari bibir orang-orang yang memusuhi beliau.

Di Era modern ini juga, Rasulullah Saw. mendapat kesaksian dari seorang non Muslim, sebagai orang urutan pertama diantara seratus jumlah orang besar di Dunia. Sebagaimana yang ditulis Michael Hart dalam bukunya.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Begitulah kemulian Rasulullah Saw. Ketika Allah dan para Malaikat memuji beliau. Ketika keluarga beliau sebagai saksi yang tidak mungkin salah atau keliru juga mengesankan beliau sebagai orang yang paling baik akhlaknya. Ketika seorang non Muslim, Michael Hart mengakui beliau sebagai orang besar nomor satu di Dunia. Ketika orang-orang Kafir Quraisy yang senantiasa memusuhi beliau itu, memberikan julukan orang yang terpercaya (al-amiin) dan orang yang mulia (kariim) kepada beliau.

Sudah sepatutnya kita sebagai umatnya, lebih berkewajiban untuk memuliakan beliau. Kita lebih berkewajiban memuliakan seorang Nabi yang ketika ajalnya tiba, beliau masih memikirkan kita, Umatnya. Kita lebih berhak dan berkewajiban -ketimbang orang non-Muslim- untuk memuliakan beliau sebagai Nabi Umat Islam. Kita lebih wajib memuliakan beliau yang yang bisa memberikan syafaat kepada kita nanti di Akhirat. Lantas bagaimana cara kita memuliakan Rasulullah Saw.?

Paling tidak kita memuliakan Rasul Saw. lewat tiga hal. Pertama, komitmen dengan Rasul Saw.. Kedua, dengan meneladani Rasul Saw.. Ketiga, dengan membela dan memperjuangkan ajaran Rasul Saw.

Pertama, komitmen dengan Rasul Saw.. Ajaran yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunah. Rasulullah Saw. bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian dua hal, dimana kalian tidak akan tersesat selama berpegang pada dua hal tersebut; Al-Qur’an dan Sunah”.

Ajaran Islam yang dijalankan Rasul dan para Salaf Saleh. Mereka memahami dan menjalankan Islam secara keseluruhan. Dalam setiap lini kehidupan mereka. Mereka melakukan kewajiban ibadah mahdhoh seperti sholat, puasa, zakat dan lainnya. Merka juga melakukan ibadah sosial, dan seterusnya. Karena memang Islam adalah agama yang menyentuh seluruh sisi kehidupan kita. Karena itu setiap gerak-gerik seorang Muslim bisa bernilai ibadah di sisi-Nya jika dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan tidak keluar dari nilai Islam.

Kedua, cara kita memuliakan Rasulullah adalah dengan meneladani beliau dalam kehidupan sehari-hari. Rasul Saw. diutus ke Dunia ini untuk menjadi tauladan bagi setiap Muslim. Allah SWT. berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu. (Al-Ahzab: 21).

Rasulullah Saw. yang paling pantas ditauladani. Karena beliau mendapat legitimasi langsung dari Allah SWT. Karena itu, seyogiyanya bagi kaum Muslimin untuk mengenal kehidupan Rasulullah Saw., dengan membaca buku sirah Rasul, mendengar ceramah atau kajian tentang sirah dan lain sebagainya. Sehingga sosok perilaku beliau bisa bersemayam dalam pikiran kita, untuk selanjutnya kita meneladani beliau.

Jangan sampai kita keliru memilih tauladan dan contoh panutan dalam kehidupan kita. Tauladan kehidupan kita bukanlah orang-orang yang jauh dari agama. Tauladan kita bukanlah orang-orang yang tidak mengindahkan norma susila. Tauladan kita bukanlah orang-orang yang menjadi bulan-bulanan media. Kita perlu bercermin diri, selama ini siapa yang kita jadikan contoh. Contoh dalam berperilaku, contoh dalam gaya hidup, contoh dalam membina rumah tangga dan seterusnya.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Rasulullah Saw. sebagai seorang manusia memang sengaja diturunkan ke bumi untuk menjadi contoh riil bagi manusia. Dan itulah hikmahnya. Sehingga manusia tidak peseimis atau enggan mencontoh Rasulullah Saw. Karena Rasul Saw. juga seorang manusia.

Jika Allah SWT. mengutus seorang Malaikat untuk menyampaikan ajaranNya. Jika Allah menurunkan Malaikat untuk menjadi panutan bagi manusia, Allah mampu untuk itu. Tetapi ceritanya akan berbeda. Bahwa tabiat Malaikat berbeda dengan tabiat manusia. Jika Malaikat yang diutus dan dijadikan tauladan, maka manusia bisa membuat alasan untuk tidak mencontohnya, mereka akan berkata: “wajar, dia kan Malaikat, beda dengan kita manusia”. Jika Malaikat yang diutus dan dijadikan tauladan, manusia tidak akan terdorong untuk menauladaninya, karena tabiat Malaikat berbeda dengan tabiat manusia.

أقول قولى هذا وأستغفر الله العظيم لى ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Ke 2

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Ketiga, membela dan memperjuangkan ajaran Rasul Saw.

Setelah seorang Muslim berupaya untuk komitmen dengan ajaran yang dibawa Rasul Saw.. Berupaya untuk mencontoh beliau dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya apa yang dilakukan adalah membela dan memperjuangkan ajarannya.

Langkah ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari amal yang kecil sekalipun. Rasul Saw. juga memerintah kita untuk merubah kemungkaran mulai dengan amal yang kecil hingga yang besar. Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, rasulullah Saw. bersabda:

Siapa dari kalian yang menyaksikan kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubah dengan lisannya, dan jika tidak mampu maka ubahlah dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah serendah-rendahnya iman”. (HR. Muslim).

Siapa yang memiliki kekuasaan maka ia bisa menjadikan kekuasaan itu sebagai sarana dan alat untuk menebar kebaikan dan mencegah kemungkaran. Siapa yang mampu berbicara dan menulis, ia bisa meninggikan kebenaran dan mencegah kemungkaran lewat sarana tersebut. Siapa yang hanya bisa mengingkari kemungkaran dengan hati, itu juga termasuk bagian dari iman, dan serendah-rendahnya iman. Tentunya menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran dilakukan dengan cara dan langkah yang hikmah, sesuai metode dakwah Islam sebagai rahmat (penebar kasih sayang) bagi sekalian alam.

Semoga Allah SWT. senantiasa memberika kita petunjuk dan kekuatan untuk bisa memuliakan Rasulullah Saw. dengan sebenarnya. Memuliakan beliau dengan berpegang teguh terhadap ajarannya, dengan meneladani beliau dalam kehidupan sehari-hari dan dengan cara membela serta memperjuangkan ajaran Islam.

عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذى القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر

InshoMedia

Mari Bertafakur

Mari Bertafakur Kalian tentunya sudah tahu bahwasannya agama merupakan pondasi hidup manusia sehari-hari. Dalam agama Islam, salat merupakan...